Kamis, 13 Juli 2017

Perjalanan ke Tanah Karo Sumatera Utara


Liburan kali ini saya banyak mengunjungi beberapa tempat di tanah Karo, selain untuk mengisi liburan saya juga ingin mencari tahu mengenai sejarah dan kebudayaan masyarakat karo yang telah lama mendiami dataran tinggi di Sumatera utara tersebut.

Pada umumnya orang-orang yang tinggal di Sumatera utara adalah Batak dan Melayu, suku karo sering dikategorikan sebagai bagian dari Batak walaupun saya juga menemukan beberapa literatur yang menyebutkan bahwa orang Karo bukanlah orang Batak, term Batak ini dianggap merupakan term yang digunakan Kolonial Belanda untuk mengidentifikasi masyarakat yang mendiami Sumatera Utara pada umumnya.

Masyarakat Karo juga merupakan salah satu suku yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter dan peradaban di Sumatera Utara, sekaligus ikut andil dalam mensejahterakan masyarakat Sumatera Utara terutama di bidang pertanian, dataran yang subur menjadikan warga setempat hidup dengan bercocok tanam, dari mulai sayuran hingga buah-buahan, saya ikut merasakan bagaimana memetik buah strawberry dari tanamannya yang langsung bisa dikonsumsi.

Selain itu tanah karo juga menjadi salah satu tempat wisata bagi masyarakat sumatera utara, baik wisata alam tradisional maupun wisata “modern” terutama daerah Berastagi. Bagi para pecinta alam biasanya akan memilih Gunung Sinabung atau Sibayak untuk didaki, saya sendiri sudah pernah mendaki gunung sinabung sebelum erupsi berkepanjagan sebagaimana saat ini.

Perjalanan saya di Tanah karo dimulai dari Museum yang terletak di simpang tugu kota Berastagi, saya menelusuri situs-situs peninggalan dan adat istiadat dari masyarakat Karo, baik berupa peninggalan secara fisik, seperti pakaian, patung, senjata dll juga melalui gambar tentang prosesi upacara dan rangkaian kegiatan dari masyarakat Karo sayapun mencoba membaca situasi bagaimana pola kehidupan masyarakat Karo pada zaman dahulu, setidaknya saya mengetahui bahwa masyarakat Karo adalah masyrakat yang berpegang teguh terhadap budaya adat-istiadat dan menjunjung tinggi leluhur.

Bagian Beranda masuk Museum Pusaka Karo 

Bagian dalam Museum Pusaka Karo

Tampak Luar Bangunan Museum Pusaka Karo
Setelah selesai mengunjungi Museum saya melanjutan perjalanan ke Gundaling, salah satu obyek wisata dan berbelanja berbagai cendramata di Berastagi, bisa dikatakan Gundaling ini adalah puncak dari Berastagi karena dari sini kita bisa melihat Tanah Karo dari ketinggian, yang juga merupakan spot untuk melihat langsung Gunung Sinabung dan Sibayak. Gundaling menjadi tempat penggerak ekonomi masyarakat Karo di Berastagi. Sebagaimana tempat wisata pada umumnya di sini kita akan menjumpai masyarakat setempat yang bekerja sebagai penjaga kafe dan penunggang Sado atau kereta Kuda.

Puncak Gundaling dan Panorama alam Gunung Sinabung

Puncak Gundaling Icon Pawang Ternalem
Untuk melengkapi rangkaian perjalanan di tanah Karo sayapun melanjutkan perjalanan ke daerah Kabanjahe, yang memang tidak terlalu jauh jaraknya dari Berastagi, sekaligus bersilaturrahmi dengan saudara. Secara keseluruhan masyarakat Karo yang terdapat di Berastagi dan Kabanjahe tidak memiliki perbedaan yang signifikan, akan tetapi aktivitas masyarakat Karo di kabanjahe memang lebih sibuk ini dikarenakan Kabanjahe merupakan ibukota dari Kabupaten Tanah Karo dimana segala urusan birokrasi pemerintahan dijalankan di sini.

Akhirnya, Perjalanan di Tanah Karo saya sudahi sampai di Kabanjahe, mungkin di lain kesempatan bisa kembali menabur jejak meneruskan perjalanan ke Danau Toba.

Rabu, 12 Juli 2017

MUBES IKMP XI UIN Sunan Kalijaga


Beberapa waktu yang lalu tepatnya pada tanggal 14 Juni 2017 saya dan teman-teman pengurus IKMP (Ikatan Keluarga Mahasiswa Pasca Sarjana) UIN Sunan Kalijaga, mengadakan musyawarah besar dan melaporkan hasil program kerja yang telah dilaksanakan, IKMP merupakan asosiasi yang mewadahi beberapa kegiatan akademik para mahasiswa Pascasarjana yang terdapat di UIN Sunan Kalijaga, yang tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas karya ilmiah sekaligus memajukan budaya literasi berbasis riset bagi segenap mahasiswa pasca sarjana.

Peran IKMP dalam memajukan dunia literasi berbasis risetpun cukup membuahkan hasil yang positif tentu saja berkat semangat dan solidaritas teman-teman Pasca sarjana serta dukungan para Dosen terbukti IKMP mampu menyelenggarakan Graduate Forum, sebuah forum akademik yang diperuntukkan kepada seluruh mahasiswa pasca sarjana se-Indonesia, dimana setiap peserta dari berbagai disiplin keilmuan bertemu untuk saling berbagi pengetahuan dari riset yang telah dilakukan.

Pada Mubes kali ini panitia mengusung tema "Tanggung Jawab Dunia Akademik Dalam Isu-Isu Global" sebuah tema yang menuntut peran para akademisi memiliki sikap tanggung jawab terhadap ke-ilmuan yang telah didapat dan aplikasinya pada masyarakat. Dalam Mubes tersebut hadir pula Prof.Noorhaidi Hasan selaku direktur Pasca Sarjana dan Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin selaku Wakil Rektor II. 

Prof. Noorhaidi Hasan menyampaikan kegelisahan akan rendahnya daya saing para akademisi Indonesia dalam dunia Internasional dan minimnya karya yang dihasilkan khususnya bagi mahasiswa pasca sarjana, kegelisahan beliau itu pula yang menginspirasi terciptanya Graduate Forum. Sedang Dr. Phil Sahiron menyampaikan pengalamannya dan menekankan agar setiap mahasiswa memiliki keberanian untuk menyampaikan keilmuannya di ruang publik apapun resikonya sepanjang yang disampaikan adalah hasil belajar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Setelah penyampaian orasi ilmiah tersebut giliran saya dan teman-teman pengurus melaporkan program kerja dari tiap-tiap kementrian yang terdapat dalam IKMP, mempertanggungjawabkan amanah yang telah diemban selama periode kepungurusan dan kegiatan apa saja yang telah dilaksanakan. 

Akhirnya selaku mahasiswa dan juga pengurus sayapun ikut berproses bersama teman-teman menyalurkan semangat dan membangun solidaritas untuk memajukan dunia literasi berbasis riset dalam ruang lingkup mahasiswa walaupun masih banyak yang belum terlaksana dengan baik.

Minggu, 30 April 2017

Bapak Tua Pengusik


Tiada tempat seindah kau temukan kecuali kampung halaman mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk mewakili perasaan tatkala beberapa waku lamanya berada di kampung orang. Sebagai perantau biasanya pulang memang menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu begitupun saya, tepat hari ini tercatat sudah 2 minggu berada di Medan setelah sekitar hampir 6 tahun lamanya berada di sebrang pulau sana.

Dalam rentang waktu dua minggu tersebut banyak sekali hal-hal yang kembali dalam memori tentu sekolah, jalanan dan tempat-tempat yang dulunya pernah disinggahi waktu kecil. melihat perubahan orang-orang yang dahulu pernah dikenal, teman, tetangga, guru hingga pedagang makanan kecil yang biasanya nangkring di depan pagar sekolah SD. Saya masih melihatnya berjualan yang sama seperti saat saya masih SD cuman bedanya dahulu naik sepeda sekarang kendaraan pengangkut gerobaknya mulai berganti dengan "kereta".

Beberapa waktu yang lalu saya melintas di Simpang Kongsi, kemudian melihat sesosok wajah yang cukup familiar dalam ingatan saya, ia berjalan dengan kaki yang sedikit terlipat jalannya miring sesekali pincang ketika ia hendak menyebrang, saya mencoba kembali mengingat siapa ia mengapa sejenak saya berfikir dalam untuk mengingatnya, sambil berjalan saya pun belum menemukan siapakah orang tua itu, kemudian berlalu mungkin karena sudah terlalu lama tidak melihatnya sehingga saya lupa dan hanya mengingat wajahnya saja.

Di rumah saya masih memikirkan kembali sesosok yang mengganggu fikiran saya tadi kok rasanya belum puas sebelum benar-benar bisa menemukan jawaban siapa gerangan orang tua tersebut, hingga sore barulah saya mulai sedikit mendapatkan petunjuk ternyta bapak tua itu adalah seorang penjual minuman kedai kopi tepat di simpang Kongsi tersebut, tapi kini tidak lagi saya temukan kedai kopinya, tempatnya sudah berganti dengan ruko yang digemerlapi permainan anak-anak layaknya pasar malam mini.

Ingatan saya semakin kuat dengan bapak tua tadi, ya saya teringat ketika masih kecil sehabis pulang sekolah SD saya masih harus melanjutkan pembelajaran yakni mengaji ala madrasah ibtidaiyah, metodenya pembelajarannya hampir sama sebagaimana sekolah pada umumnya, jadi pagi sekolah siang mengaji, begitulah saya habiskan waktu semasa kecil. kebetulan jarak tempuh rumah dan SD amatlah dekat bahkan saya tinggal di komplek Sekolah, tapi berbeda dengan jarak tempuh rumah ke tempat mengaji jaraknya kurang lebih 2-3 KM.

Untuk sampai ke tempat ngaji biasanya saya berjalan, terkadang juga naik sepeda dengan teman yang melintas kebetulan satu kelas dengan saya. Sehabis ngaji itulah saya dan teman-teman biasanya singgah ke kedai bapak tua itu untuk meminta air putih sekedar melepas dahaga, tak jarang ia juga memberikan teh hangat kepada anak-anak yang baru keluar dari mengaji secara cuma-cuma dan itu ia lakukan hampir setiap hari.

Walaupun kedai kopinya tak ada lagi dan kondisi bapak tua itu yang kini mulai "memincang", bagi saya beruntunglah ia saya hanyalah satu dari banyaknya anak-anak yang ia beri minum walaupun seteguk air putih tapi cukup untuk setidaknya mengusik fikiran saya, dan menyindir ego untuk memahami kembali apa makna dari memberi, makna dari mengasihi, dan makna dari hidup.

Selasa, 28 Maret 2017

Menelusuri jejak sejarah Sunan Kudus dan Sunan Muria


Perjalanan ke Kudus saya lakukan bersama teman saya Thiyas Tono taufiq teman sekelas sejak Kuliah S1 di UIN, kebetulan dia juga mau pulang ke rumahnya di Pati, saya yang selama di Jogja belum pernah ke Pati dan beberapa aktifitas di Jogja yang cukup membuat jenuh, akhirnya memutuskan untuk refreshing sejenak sekalian melihat-lihat bagaimana kota Pati.

Agar perjalanan ke Pati jadi lebih bermakna dan berkesan, maka kamipun bersepakat untuk sekalian berziarah ke makam para walisongo. Saya sendiri juga sudah berniat sejak lama untuk berziarah ke semua makam para walisongo yang terdapat di Jawa. 

Sebelumnya saya sudah mengunjungi makam Sunan Drajat di Lamongan, sebagaimana kita ketahui bahwa terdapat makam Sunan Kalijaga di Demak dan dua Sunan yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kudus.Oleh karena itu dari Jogja kamipun menyusun rute via Semarang. 

Makam Sunan Kudus terletak di kota yang ditandai dengan masjid Menara atau dikenal juga masjid Al-Aqsha sebuah masjid dengan arsitektur menara yang khas sebagaimana candi bagi umat Hindu pada umumnya. Sedangkan makam Sunan Muria terletak di puncak Gunung Muria, nama Muria itu juga disematkan berdasarkan nama Gunung dimana Sunan Muria menyebarkan dakwah Islamnya kepada Masyarakat sekitar. 

Berdirinya menara yang menyerupai candi itu membuktikan bahwa adanya akulturasi budaya yang kuat dari masyarakat sekitar dengan nilai-nilai ke-Islaman yang diajarkan oleh Sunan Kudus.

Dalam babad tanah Jawi (catatan sejarah Jawa) bahwa kota Kudus pada masa kerajaan merupakan daerah kekuasaan Majapahit yang kemudian berhasil ditaklukan oleh kerajaan Demak, sehingga masyarakat sekitar Kudus dulunya merupakan masyarakat yang mayoritas beragama Hindu. 

Tidak hanya itu penghormatan Sunan Kudus terhadap masyarakat sekitar juga tercermin dalam doktrin dan ajarannya seperti pada saat Idul Adha, masyarakat sekitar yang hendak menyembelih sapi diminta untuk mengganti hewan kurban dengan yang lain misalnya kerbau dll.

Walaupun saat ini kebanyakan masyarakat Kudus sudah beragama Islam tapi himbauan dan ajaran sunan Kudus masih dijalankan bagi sebagian besar masyarakat Kudus khususnya di daerah sekitar masjid Menara.

Setelah mengunjugi masjid Menara, mumpung sudah di Kudus sayang untuk melewatkan ziarah ke Makam Sunan Muria, akan tetapi karena jarak tempuh yang cukup jauh kamipun memutuskan untuk beristirahat mempersiapkan keberangkatan keesokan harinya.  

***

Pembekalan sudah matang rute perjalanan menuju  makam Sunan Muria di Puncak gunung Muria juga sudah dipersiapkan, kamipun langsung berangkat dari pagi menghindari agar bisa sampai tujuan lebih awal.

karena Makam Sunan Muria terletak di Puncak gunung maka medan yang ditempuhpun menanjak, sampai pada satu titik beberapa kilometer sebelum ke Makam terdapat tanjakan yang curam biasanya para pengunjung dianjurkan untuk berjalan kaki dengan menaiki 1000 tangga, tapi bagi pengunjung yang ingin melanjutkan menggunakan motor dengan melewati tanjakan tersebut juga tidak apa-apa.

Sunan Muria sendiri merupakan putera dari Sunan Kalijaga, sebagaimana Sunan Kalijaga, Sunan Muria juga mendakwahkan Islam dengan Khazanah kearifan lokal masyarakat setempat. Menariknya Sunan Muria mendakwahkan Islam kepada masyarakat sekitar di dataran tinggi.

Sesampinya di Puncak Muria banyak sekali kami menemukan para pendatang yang hadir untuk berziarah, sebelum masuk peziarah diarahkan untuk bersuci terlebih dahulu dengan berwudhu di masjid yang terdapat tepat di depan pintu masuk. kemudian petugas sekitar akan memandu bersama peziarah lainnya untuk memasuki kawasan makam.

Setelah melaksanakan serangkaian ziarah di Makam Sunan Muria kamipun pulang untuk beristirahat dari aktifitas seharian.

tampak lokasi depan sebelum masuk ke makam Sunan Kudus


Menara Masjid Al-Aqsha Kudus


Tampak dari kejauhan lokasi Makam Sunan Muria di Puncak Gunung Muria

Di gapura depan Jalan masuk menuju makam Sunan Muria

Di kawasan sekitar makam Sunan Muria

Pintu keluar setelah berziarah dari makam Sunan Muria

Dokumentasi video perjalanan di Kudus

Senin, 12 Desember 2016

You Are Lucky : Experiencing Indonesia With The Student of Goettingen University



A month ago the University held the Experiencing Indonesia Programme that attended by the students of Goettingen University, this programme was a cooperation between Islamic State University of Sunan Kalijaga and Goettingen University since last few years, and I was a colleague for the students through some selection and interviewed by the committee.

The students stayed in Indonesia for two weeks and felt all about Indonesia's life like how the people, goverment, food, culture and also the religion in indonesia were, because most of them was a student who studied in religious and culture also Islamic studies in Germany.

To complete the experience they had some class everyday for the discussion and sharing together, we discuss the History of Islamic in Indonesia, and contemporary Islamic in Indonesia also they shared how about the Moeslim in Germany especially the refugee of the Middle East in Europe issues etch. the visiting not only getting the happiness but also the knowledge to each other.

After the discussion in the class we had also some touring to many recomended places around Jogja, we went to Tamansari as one of heritage culture certainly Keraton as the main purpose to know more Jogja deeply from the history, culture, and goverment (Kesultanan) in the past.

We also visited pesantren in Mlangi, Pesantren is the education system originated of Indonesian traditional (Islamic Boarding school)  this Pesantren we visited had an interested Go Green programme for santri (Student who lives in pesantren) "The Go green Programme suggest us to be friendship with the nature" the ustadz said, so beside learning the classic books (Yellow books) The santris also learn how to farm from the farmers around pesantren area sometimes they also learn in the grass field to refresh their mind and getting focus to the lesson they studied.

We went to the beach, the most popular beach in Jogja is Parangtritis, the southern coast of Java. The Tourist who visits Jogja they should visit parangtritis if they don't its mean they do not visit Jogja yet, so many tourist in the weekend to enjoy the atmosphere of the beach, sometimes people do the meditation according to the Java mithology that Nyi roro kidul as the spirit power or deity Queen of Southern sea of Java. And next trip we went to Goa pindul.

 The last day after two weeks I accompanied Hivan, my Goettingen's friend took lunch in Ambarukmo Plaza, "Abduh If you come to Germany you can stay at my home and you can eat for free" Hivan said. Ofcourse I hope sometime I will be in there, going to your home and taking for my free eating hahah, I said to him.

"You know Abduh two weeks in Indonesia is not enough, I want to know more about Indonesia, you are Lucky because you come from here, with wonderful country, awesome culture, and good people".
then I said, You also lucky men because you come from Germany so we can share each other, how you do your life and how we do our life. 

After taking lunch we went back to the Hotel then he packed the clothes and prepared to leave Indonesia. but what he said still reminded and made me more proud with this country, and to you all Indonesian who think that you are not better and pessimistic because you come from Indonesia you are wrong. you have to be confident because you are lucky.

Testimoni video :



Jumat, 12 Agustus 2016

Hobi, Masa Kecil, dan Futsal


Sebagaimana anak-anak pada umumnya saya pun pernah mencita-citakan untuk menjadi seorang pemain bola, karena memang hobi bermain bola bersama teman-teman sedari kecil, dan sepakbola adalah jenis olahraga ekonomis hanya butuh satu bola gak mesti bagus, bola plastikpun namanya juga anak-anak pasti senang merubungi dan berlari mengejar bola.

Beckham, Rivaldo, Zidane, Ronaldo, Cafu, Del Piero sampai yang tidak pernah ketinggalan Roberto Carlos ditambah juga dengan Tsubasa pun idola yang selalu menjadi topik pembicaraan dan kami sebut-sebut tatkala menggiring bola saat menyerang ke gawang lawan.

Saya dan keluarga tinggal di komplek sekolah karena ayah saya adalah seorang kepala sekolah di sekolah tersebut, setiap sore sehabis jam pelajaran ketika semua siswa telah pulang dan di hari minggu pagi kami menjadwalkan untuk bermain bola di halaman sekolah tersebut, kami mulai mengambil batu besar untuk dibuat menjadi penanda tiang gawang kemudian membagi kelompok untuk saling berhadapan dalam pertandingan. Terkadang jika teman-teman tidak pada datang kami pun bermain bersama Buya (panggilan ayah), biasanya saya satu tim dengan abang saya dan buya dengan Fadhil adik saya yang laki-laki.

Mempunyai kesempatan untuk bermain bola bersama keluarga dan teman-teman merupakan hal yang membuat saya begitu menikmati masa kecil, kebersamaan dalam menyalurkan hobi yang menjadi kebiasaan terus menerus sehingga terbayang dengan jelas waktu itu, walau cuma pertandingan ecek-ecek tapi terus berlari mengejar bola.

Kini di tengah rutinitas harian yang tak menentu, hobi bermain bola bisa kembali tersalurkan dengan futsal, sepakbola dengan jumlah tim yang lebih sedikit dan lapangan yang lebih kecil. Tidak hanya sekedar hobi tapi juga berolahraga sekaligus menyehatkan akal fikiran, bukankah akal yang sehat terdapat pada jiwa/badan yang sehat "Al-Aqlu al-salimu fi al-jismi al-salimi". 

Kamis, 11 Agustus 2016

Perjalanan Ke Lamongan, Jawa Timur


Setelah sekian lama berada di Pulau Jawa khususnya di Jogja, saat ini tercatat baru dua kali saya menginjakkan kaki di Jawa timur tepatnya tahun 2014 kemarin di Malang, kota Batu ke sana karena ada perkumpulan ikatan Alumni Pondok se-Jawa atau sarasehan. Kini untuk kedua kalinya saya dan beberapa teman se-angkatan bersama ke Lamongan salah satu daerah di Jawa timur tepatnya di pesisir utara, dalam rangka menghadiri walimah salah satu sahabat kami Fatik yang memang asli orang Lamongan.

Sesampainya di Lamongan saya cukup terkesan, merasakan suasana religiusitas masyarakat, spirit agama dan budaya yang amat begitu terasa, dibuktikan banyak sekali saya jumpai tempat-tempat sakral keagamaan yang bisa dikunjungi, baik makam Wali, kyai, syekh dan tokoh-tokoh agama lain guna berziarah, tidak ketinggalan pula banyak saya jumpai pondok-pondok pesantren.

Seketika dalam benak saya terfikir akan awal masuknya Islam di tanah Jawa, sebuah teori terkemuka menyebutkan bahwa masuknya Islam pertama kali adalah melalui Pesisir, teori itu juga bisa diuji dengan konteks keberagamaan masyarakat pesisir dan masyarakat kota phery-phery and central, mengamati dengan seksama saya mengasumsikan di sinilah awal aktivitas penyebaran Islam dimulai.

Jawa timur memang terkenal sebagai basis pesantren yang telah melahirkan banyak tokoh nasional dari masa kolonial yang berhasil menghantarkan Indonesia menuju kemerdekaan dengan kontribusi santri, kyai dan tokoh agama, bahkan Jombang sebagai tempat kelahiran Gusdur Presiden RI ke-4 disebut juga sebagai kota santri.

Perjalanan kami berlanjut setelah menghadiri walimah sebagai tujuan awal, kami pun turut berziarah ke makam Sunan Drajat salah satu dari Walisongo, tepatnya di Desa Drajat kec.paciran, jika dulu di madrasah saya hanya mempelajari dan menghafal nama-nama walisongo beserta latarbelakang ceritanya dari buku, kini saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi dan mengetahui lebih dalam dengan seperangkat pengetahuan baru, seperti ikut merasakan suasana daerah Drajat sebagai daerah tempat Sunan Drajat menyiarkan dakwahnya sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar.

Berziarah ke makam Sunan Drajat di desa Drajat kec. Paciran kab. lamongan . Sunan Drajat adalah salah satu dari walinsongo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa, lahir pada 1470 M, nama kecilnya adalah Raden Qasim yg merupakan anak dari Sunan Ampel. Kemudian diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah. . Budaya menjadi instrumen dalam penyebaran Islam yg dilakukan sunan drajat ia dikenal juga sebagai pencipta tembang mocopat pangkur, tembang yang bernuansa pitutur (nasihat), pertemanan, dan cinta. . menehana teken marang wong kang wuta, menehana mangan marang wong kang luwe, menehana busana marang wong kang wuda, menehana ngiyup marang wong kang kodanan . (berilah ilmu agar orang menjadi pandai, sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, berilah perlindungan orang yang menderita) . #walisongo #indonesianculture #sunandrajat #culture
Foto kiriman Abduh Lubis (@abduhlubis) pada

Memasuki kawasan makam banyak sekali pengunjung yang datang untuk berziarah, ternyata tidak hanya kami yang berasal dari luar kota melainkan juga banyak yang datang dari luar Jawa juga. makanya waktu berziarah dibagi menjadi rombongan per rombongan untuk mengkondisikan agar lebih tertib.

kemudian terdapat penjaga makam yang memandu peziarah, mulai dari menceritakan segala hal mengenai Sunan Drajat dari profil, hingga metode-metode dakwah Islam yang dilakukan oleh Sunan Drajat kepada masyarakat sekitarnya salah satunya adalah dengan instrumen budaya masyarakat yakni musik, gamelan dan tembang (Mocopat pangkur).

Setelah menjelaskan panjang lebar selanjutnya rombongan dipandu untuk sama-sama bershalawat sekaligus berdoa dan mendoakan Wali sebagaimana tradisi yang dipercayai bahwa Wali sebagai tawasul kepada sang Khalik.

Selesai berziarah  kami bergegas untuk kembali ke Jogja, kembali ke habitat persinggahan sementara kami masing-masing, dan kembali beraktifitas seperti sebelumnya, saya pun berniat untuk melanjutkan peziarahan ke beberapa Walisongo lainnya seperti Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dll.