Friday, August 12, 2016

Hobi, Masa Kecil, dan Futsal


Sebagaimana anak-anak pada umumnya saya pun pernah mencita-citakan untuk menjadi seorang pemain bola, karena memang hobi bermain bola bersama teman-teman sedari kecil, dan sepakbola adalah jenis olahraga ekonomis hanya butuh satu bola gak mesti bagus, bola plastikpun namanya juga anak-anak pasti senang merubungi dan berlari mengejar bola.

Beckham, Rivaldo, Zidane, Ronaldo, Cafu, Del Piero sampai yang tidak pernah ketinggalan Roberto Carlos ditambah juga dengan Tsubasa pun idola yang selalu menjadi topik pembicaraan dan kami sebut-sebut tatkala menggiring bola saat menyerang ke gawang lawan.

Saya dan keluarga tinggal di komplek sekolah karena ayah saya adalah seorang kepala sekolah di sekolah tersebut, setiap sore sehabis jam pelajaran ketika semua siswa telah pulang dan di hari minggu pagi kami menjadwalkan untuk bermain bola di halaman sekolah tersebut, kami mulai mengambil batu besar untuk dibuat menjadi penanda tiang gawang kemudian membagi kelompok untuk saling berhadapan dalam pertandingan. Terkadang jika teman-teman tidak pada datang kami pun bermain bersama Buya (panggilan ayah), biasanya saya satu tim dengan abang saya dan buya dengan Fadhil adik saya yang laki-laki.

Mempunyai kesempatan untuk bermain bola bersama keluarga dan teman-teman merupakan hal yang membuat saya begitu menikmati masa kecil, kebersamaan dalam menyalurkan hobi yang menjadi kebiasaan terus menerus sehingga terbayang dengan jelas waktu itu, walau cuma pertandingan ecek-ecek tapi terus berlari mengejar bola.

Kini di tengah rutinitas harian yang tak menentu, hobi bermain bola bisa kembali tersalurkan dengan futsal, sepakbola dengan jumlah tim yang lebih sedikit dan lapangan yang lebih kecil. Tidak hanya sekedar hobi tapi juga berolahraga sekaligus menyehatkan akal fikiran, bukankah akal yang sehat terdapat pada jiwa/badan yang sehat "Al-Aqlu al-salimu fi al-jismi al-salimi". 

Thursday, August 11, 2016

Perjalanan Ke Lamongan, Jawa Timur


Setelah sekian lama berada di Pulau Jawa khususnya di Jogja, saat ini tercatat baru dua kali saya menginjakkan kaki di Jawa timur tepatnya tahun 2014 kemarin di Malang, kota Batu ke sana karena ada perkumpulan ikatan Alumni Pondok se-Jawa atau sarasehan. Kini untuk kedua kalinya saya dan beberapa teman se-angkatan bersama ke Lamongan salah satu daerah di Jawa timur tepatnya di pesisir utara, dalam rangka menghadiri walimah salah satu sahabat kami Fatik yang memang asli orang Lamongan.

Sesampainya di Lamongan saya cukup terkesan, merasakan suasana religiusitas masyarakat, spirit agama dan budaya yang amat begitu terasa, dibuktikan banyak sekali saya jumpai tempat-tempat sakral keagamaan yang bisa dikunjungi, baik makam Wali, kyai, syekh dan tokoh-tokoh agama lain guna berziarah, tidak ketinggalan pula banyak saya jumpai pondok-pondok pesantren.

Seketika dalam benak saya terfikir akan awal masuknya Islam di tanah Jawa, sebuah teori terkemuka menyebutkan bahwa masuknya Islam pertama kali adalah melalui Pesisir, teori itu juga bisa diuji dengan konteks keberagamaan masyarakat pesisir dan masyarakat kota phery-phery and central, mengamati dengan seksama saya mengasumsikan di sinilah awal aktivitas penyebaran Islam dimulai.

Jawa timur memang terkenal sebagai basis pesantren yang telah melahirkan banyak tokoh nasional dari masa kolonial yang berhasil menghantarkan Indonesia menuju kemerdekaan dengan kontribusi santri, kyai dan tokoh agama, bahkan Jombang sebagai tempat kelahiran Gusdur Presiden RI ke-4 disebut juga sebagai kota santri.

Perjalanan kami berlanjut setelah menghadiri walimah sebagai tujuan awal, kami pun turut berziarah ke makam Sunan Drajat salah satu dari Walisongo, tepatnya di Desa Drajat kec.paciran, jika dulu di madrasah saya hanya mempelajari dan menghafal nama-nama walisongo beserta latarbelakang ceritanya dari buku, kini saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi dan mengetahui lebih dalam dengan seperangkat pengetahuan baru, seperti ikut merasakan suasana daerah Drajat sebagai daerah tempat Sunan Drajat menyiarkan dakwahnya sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar.

Berziarah ke makam Sunan Drajat di desa Drajat kec. Paciran kab. lamongan . Sunan Drajat adalah salah satu dari walinsongo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa, lahir pada 1470 M, nama kecilnya adalah Raden Qasim yg merupakan anak dari Sunan Ampel. Kemudian diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah. . Budaya menjadi instrumen dalam penyebaran Islam yg dilakukan sunan drajat ia dikenal juga sebagai pencipta tembang mocopat pangkur, tembang yang bernuansa pitutur (nasihat), pertemanan, dan cinta. . menehana teken marang wong kang wuta, menehana mangan marang wong kang luwe, menehana busana marang wong kang wuda, menehana ngiyup marang wong kang kodanan . (berilah ilmu agar orang menjadi pandai, sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, berilah perlindungan orang yang menderita) . #walisongo #indonesianculture #sunandrajat #culture
Foto kiriman Abduh Lubis (@abduhlubis) pada

Memasuki kawasan makam banyak sekali pengunjung yang datang untuk berziarah, ternyata tidak hanya kami yang berasal dari luar kota melainkan juga banyak yang datang dari luar Jawa juga. makanya waktu berziarah dibagi menjadi rombongan per rombongan untuk mengkondisikan agar lebih tertib.

kemudian terdapat penjaga makam yang memandu peziarah, mulai dari menceritakan segala hal mengenai Sunan Drajat dari profil, hingga metode-metode dakwah Islam yang dilakukan oleh Sunan Drajat kepada masyarakat sekitarnya salah satunya adalah dengan instrumen budaya masyarakat yakni musik, gamelan dan tembang (Mocopat pangkur).

Setelah menjelaskan panjang lebar selanjutnya rombongan dipandu untuk sama-sama bershalawat sekaligus berdoa dan mendoakan Wali sebagaimana tradisi yang dipercayai bahwa Wali sebagai tawasul kepada sang Khalik.

Selesai berziarah  kami bergegas untuk kembali ke Jogja, kembali ke habitat persinggahan sementara kami masing-masing, dan kembali beraktifitas seperti sebelumnya, saya pun berniat untuk melanjutkan peziarahan ke beberapa Walisongo lainnya seperti Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dll.

Tuesday, July 12, 2016

Internet dan Masyarakat Post Modernisme


Disadari atau tidak orang-orang yang hidup saat ini adalah generasi pertama dari awal keberadaan internet dan media sosial, terutama mereka yang berasal dari generasi Y dan Z kalau kita memakai istilahnya Baby Boomer, jika dahulu orang-orang hanya mengira-ngira dan meramalkan akan datangnya suatu zaman dimana jarak tidak lagi menjadi masalah untuk bisa berjumpa dan kini menurut saya internet dan media sosial adalah jawaban itu, dan akan semakin canggih pada abad yang akan datang.

Orang-orang yang hidup saat ini adalah orang orang yang hidup di akhir abad ke 20 dan awal abad ke 21, esok di abad 40 atau 50 dst orang-orang juga akan mencari tahu dan menceritakan tentang kehidupan, konteks dan budaya masyarakat abad ke 21 sebagaimana kita mempelajari, menggali dan menceritakan masyarakat pada abad 14, 17 ataupun 18 artinya hari ini adalah sejarah bagi anak cucu kita di masa depan. namun pencariannya terhadap manusia abad 21 tidak sesulit bagaimana kita mencari dan menggali data manusia abad 14 karena rekaman jejak manusia saat ini bisa diperoleh langsung dari akun personalnya di internet dan media sosial bagaimana ia beraktifitas apa yang dilakukannya pada hari dan jam tersebut bahkan percakapannya sekalipun terekam dengan sangat baik.

Masyarakat Post modern mempunyai data yang sedemikian kompleks dan terpampang jelas dari sumber pertama, berbeda sekali ketika kita ingin berbicara mengenai masyarakat pertengahan melalui sejarah tertulis yang sampai pada kita saat ini. pertama sejarah cendrung satu arah dengan data dari penulis tunggal yang sifatnya tentu terbatas pada perolehan dan pengamatan dari penyaji tulisan tentang sejarah tersebut. kedua bias penyaji sejarah bermain ketika ia ingin menulis bagaimana sejarah ini akan disajikan, pemilihan tata bahasa penyaji juga mempengaruhi bagaimana sejarah dipahami oleh pembaca sampai pada situasi dan lokasi penulis sejarah juga turut menentukan. setidaknya faktor-faktor tersebut akan bergulat dalam imajinasi penulis mengenai sejarah. Jika kita bandingkan dengan masyarakat post modern maka jawaban-jawabannya atas suatu peristiwa tertentu akan lebih beragam, multi paradigm, komperhensif, argumentatif dan relatif.

Internet tidak hanya sebagai konektivitas antar satu individu dengan individu yang lain tetapi juga sekaligus sebagai pustaka dunia yang menyimpan jutaan data manusia, yang bisa diperoleh diketahui kapanpun dan dimanapun, hal yang paling menguntungkan bagi masyarakat potsmodern dengan adanya internet adalah perihal tentang keabsahan pertalian nasab terhadap leluhur mereka, setiap anak, cucu akan mengetahui bagaimana kakek, buyut mereka baik wajahnya, kehidupannya, kondisi masyarakat sekitarnya, sampai logat bicaranya sekalipun dan data itu begitu mudah diketahui dengan mengunjungi langsung situs digital berupa media sosialnya selama hidup dll. dengan memiliki data tersebut maka setiap manusia postmodern akan mengetahui perubahan ataupun perkembangan dengan apa yang disebut sebagai evolusi, tentang bagaimana pengaruh garis gen dan pengaruh lingkungan kehidupannya secara lebih nyata.

Hal yang tidak didapat ketika kita berbicara tokoh abad ke-14 misalnya Ibnu Khaldun, kita bisa mengetahui dan mendefenisikannya melalui karyanya seperti Al-Mukaddimah dan beberapa karya lainnya tapi kita akan kesulitan menemukan rekam jejak yang menggambarkan keutuhan tokoh misalnya secara fisik, baik berupa wajah, suara atau mungkin kegemaran diluar dari karya yang sampai pada kita saat ini. kehilangan data tersebut akan membuat wajah tunggal dan pendefinisian yang terbatas dari segala aspek kehidupan seorang tokoh yang bersangkutan. karena dari situ kita bisa menemukan sisi lain dari seorang tokoh yang dikemukakan, tidak hanya pendefenisian satu wajah melainkan adanya wajah lain yang dapat kita simpulkan untuk pendefenisian tokoh tersebut yang bersumber langsung dari tokoh.

Dengan demikian internet membantu masyarakat post modern untuk mengungkap sisi lain dari seorang tokoh, sehingga dapat diketahui bahwa masyarakat post modern adalah masyarakat yang multi defenisi, seorang guru yang juga seorang pengusaha, seorang penulis yang juga senang berolahraga, seorang musisi yang juga berpendidikan tinggi, atau seorang akademisi yang juga musisi, penulis, pengusaha dan senang berolahraga.


Yogyakarta
12 July 2016 

Sunday, July 10, 2016

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H


Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah, fitrahnya manusia ketika pertama kali hadir ke dunia, putih bersih dan suci. setelah tumbuh, melewati perjalanan kehidupan kian dewasa maka mulailah bani Adam yang tadi dilahirkan melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin menyinggung orang orang disekelilingnya baik saudara, teman maupun orang tua. karena setiap individu membawa standard nilai yang telah terkonstruksi dari pengalamannya masing-masing dan setiap kelompok memiliki kesepakatan akan peraturan dan moral tertentu sehingga kesalahan amat sangat dimungkinkan bagi manusia selagi ia hidup di dunia. sebagaimana bunyi hadits "Al-insanu Mahallu al-nisyan wa al-khata" Manusia adalah tempatnya lupa dan salah.

Idul fitri dapat dimaknai sebagai puncak momentum dari upaya penyucian diri atas dosa (Tazkiyatu al-nafs) yang telah kita lakukan baik dosa yang bersifat spiritual maupun sosial, baik dosa yang disadari maupun tidak disadari. Saling meminta maaf dan memaafkan satu sama lain tulus dari dalam hati sebagai instrumen yang menghubungkan kedua belah pihak atas kekeringan spiritual dan kesenjangan sosial sehingga tercipta hubungan yang seimbang baik vertikal maupun horizontal "Hablun min Allah wa hablun min al-naasi"

Dalam menjalankan instrumen prosesi bermaafan maka setiap pribadi akan berada pada situasi interaksi, dengan demikian akan memperbaiki pola hubungan keduanya, hubungan tetangga yang selama bertetangga tidak saling kenal karena tidak saling sapa, hubungan kepala desa dengan warga yang selama menjabat tidak melihat kondisi warganya atau sebaliknya kondisi warga yang tidak mau tahu kepala desanya, hubungan anak dengan orang tua, hubungan suami dengan istri, hubungan menantu dengan mertua dll. Oleh karena itu dengan beridul fitri maka akan menjadikan hidup kita lebih baik lagi kedepan tidak hanya secara individual melainkan juga secara komunal.

Hari ini, walaupun pada saat saya menulis ini adalah hari ke-5 lebaran, dan masih dalam suasana Idul Fitri makanya kembali saya mau mengucapkan minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin untuk semua saudara, kerabat dan teman sekalian semoga amalan-amalan di bulan ramadhan kemarin menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Yogyakarta
10 July 2016


Saturday, June 25, 2016

Kala Media Sosial Jadi Bencana Bagi Keragaman di Indonesia



Jum’at pagi bertepatan dengan shalat Ied salah satu masjid di Tolikara dibakar oleh oknum yang mempermasalahkan pembangunan masjid di tanah Papua, dan merasa resah dengan keberadaan Muslim di sana, liputan dan pemberitaan tentang pembakaran masjid tersebut sontak menjadi trending topik dan menjadi headline news di beberapa media online, beberapa stasiun televisi swasta dalam skala nasional juga menayangkan berita tersebut secara terus menerus, sehingga pemberitaan mengenai pembakaran masjid di Tolikara begitu cepat menyebar dan tidak terbendung, isu-isu yang tidak bertanggung jawab juga menyeruak, terutama di media sosial berbagai macam opini dan dugaan-dugaan mengenai pembakaran ikut mewarnai, tidak jarang sampai menyinggung ke ranah sentimen keagamaan.

Masifnya pemberitaan dan respon masyarakat yang bergejolak memberikan dampak di berbagai daerah lain di Indonesia. Selang tiga bulan setelah pembakaran di Tolikara, pembakaran rumah ibadah kembali terjadi di Aceh Singkil, kali ini pembakaran dilakukan oleh oknum terhadap Gereja, hal serupa pun hampir sama di mana pemberitaan media yang meliput kejadian tersebut kian derasnya, respon masyarakat di media sosial tidak kalah “membisingkan” isu isu miring berseliweran, tuduhan tuduhan yang tidak berdasar juga terus dialamatkan kepada salah satu komunitas agama yang tentu saja dapat merusak hubungan kerukunan beragama yang sudah terjalin sejak lama di bumi Indonesia.

Perusahaan media pada mulanya berperan sebagai penyampai berita atas suatu kejadian tertentu, di mana berita menjadi suatu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, dan pelaku perusahaan media bukanlah hadir dalam ruang hampa yang terlepas dari desas-desus ekonomi, politik dan budaya. Sebagaimana perusahaan pada umumnya, tentulah perusahaan media memiliki kepentingan dari perusahaan yang dikelolanya, paling tidak bagaimana perusahaan tetap terus berdiri dan pemilik media mendapat keuntungan serta mampu menggaji setiap karyawan dan membayar tagihan operasional setiap bulannya.

Dalam memperoleh keuntungan maka setiap perusahaan media harus merambah ke seluruh elemen masyarakat agar dapat ditonton, dibaca dan disebar sebanyak-banyaknya. Semakin banyak yang mengakses maka akan semakin eksis, semakin banyak yang datang untuk beriklan dan pastinya semakin banyak pulalah keuntungan yang didapat dari perusahaan media tersebut. Oleh karena itu setiap perusahaan media dituntut untuk bersaing perihal mengemas bagaimana berita disuguhkan ke masyarakat. Setiap perusahaan media tentu memiliki peraturan dan tata cara yang harus dipatuhi, tapi di era keterbukaan digital seperti saat ini, maka setiap orang siapa saja dan dimana sajapun berada bisa menjelma menjadi perusahaan media dengan segala kepentingan yang dibawanya.

Media sosial kini merupakan suatu yang paling dekat dengan masyarakat, setiap orang dapat berbagi kabar dan dapat bertemu walau dengan jarak yang jauh sekalipun, dengan media sosial juga seseorang bisa kembali bertemu dengan sanak keluarganya yang telah lama berpisah. Dalam perkembangannya, media sosial menjadi sarana untuk mengakses berita sekaligus respon terhadap suatu kejadian tertentu, seiring terus meningkatnya pengguna media sosial di Indonesia. Dari data yang dirilis laman kominfo.go.id menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta pengguna dan 80% diantaranya adalah pengguna media sosial kalangan remaja.

Dua peristiwa di atas dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa perusahaan media berpotensi untuk mengembangkan konflik juga mentransfer konflik ke wilayah lain yang sebelumnya tidak berkonflik menjadi berkonflik melalui sebuah pemberitaan. Pemberitaan mengenai pembakaran dua rumah ibadah tentulah akan menjadi pemberitaan yang menghebohkan di masyarakat, karena perihal agama adalah suatu yang fundamental dari setiap umat beragama dengan intensitas tinggi dan rentan memancing emosi dari setiap pemeluknya, terlebih Masjid dan Gereja yang merupakan tempat ibadah sekaligus simbol kesucian masing-masing agama. Dan bagi perusahaan media pemberitaan tersebut merupakan pemberitaan yang dapat memberikan keuntungan karena dapat meningkatkan eksistensi, traffic akses pengunjung, dan rating perusahaan. Sedangkan media sosial menjadi sasaran utama berbagai pemberitaan dari berbagai macam perusahaan media.

Maka ketika pemberitaan dengan segala nilai dan muatannya diberitakan oleh banyak perusahaan media, dan juga masyarakat yang berbeda latar belakang, pemahaman dan pengalaman menerima pemberitaan melalui media sosial maka akan akan muncul respon yang semakin beragam pula dan tidak jarang sampai menimbulkan perselisihan. Media sosial menjadi pihak yang memfasilitasi dan menyalurkan pemberitaan dengan begitu mudahnya menangkap kemudian menyebarkannya, bermula pada lingkaran dari setiap individu kemudian meluas melalui jejaring ke lingkaran-lingkaran yang lain sehingga bayangan-bayangan berkonflik dirasa tanpa jarak dan begitu dekat dari sumber konflik walau berbeda pulau sekalipun.

Kesimpulan

Pemberitaan konflik yang terus menerus dan media sosial yang tidak terbendung akan menyebabkan konflik semakin mengakar dan semakin sulit ditemukan jalan keluarnya. Dari pemberitaan ke media sosial, kemudian berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat di daerah lain yang merupakan bagian dari komunitas agama yang terlibat konflik di suatu daerah tertentu. Dengan demikian akan merasa was-was dengan komunitas agama yang berbeda di daerahnya, bahkan bisa merespon dengan membentuk gerakan perlawanan atau pembalasan yang akan menyebabkan konflik menjadi semakin luas.

Rekomendasi :

Keragaman adalah jantung dari persatuan negara Republik Indonesia oleh karena itu : 
1. Perlunya perhatian dan peran serius pemerintah dalam menangani pemberitaan yang bersinggungan dengan keragaman.
2. Perlunya kerjasama pemerintah dengan perusahaan media dengan tujuan kerukunan umat beragama dan menjunjung tinggi keragaman.
3. Masyarakat harus bijak dalam menyikapi berbagai pemberitaan dan tidak mudah terpancing secara berlebihan dalam merespon pemberitaan yang berpotensi merusak keragaman di Indonesia.
4. Bermedia sosial dengan sehat.
silahkan ditambahkan :)
5.
6.
7.
8.


“artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa”  #celebratediversity #10tahunicrs


Wednesday, April 6, 2016

Domain baru bangga Pakai .ID



Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan notifikasi di email yang memberitahukan limit domain dalam masa tenggang dan akan segera expired, tanpa pikir panjang saya segera melacak domain id yang masih tersedia, tentunya domain dengan karakter nama yang mendefenisikan saya, yuupss akhirnya domain abduh.id masih tersedia, Segera saya memesan domain tersebut untuk dihakpatenkan agar tidak diserobot oleh orang lain yang memiliki kesamaan nama dengan saya.

Sebenarnya sudah sejak lama saya membidik id tapi karena limit domain yang lama masih cukup panjang pada waktu itu maka saya harus menahan sekaligus menabung. Akhirnya setelah sekian lama keinginan itu terwujud juga, saya sangat senang bagaimana tidak secara ikut serta memajukan domain yang dikelola anak bangsa bekerjasama dengan pemerintah. Selain itu domain id kini juga mulai ngetren dikalangan para blogger banyak yang mulai beralih domain ke id begitupun MENKOINFO yang terus mensosialisasikan dan menghimbau perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk menggunakan domain id  jadi bisa dibilang dengan menggunakan id tidak hanya menunjukkan rasa nasionalisme dalam dunia maya tapi juga peduli terhadap perkembangan IT di Indonesia.

Domain sudah bagus misi saya selanjutnya adalah membuat blog ini juga bagus, karena pengalaman saya sebelumnya teramat jarang mengupdate sedikit coretan di sini wal hasil blog tidak memiliki aktifitas, pengunjung sepi kalau ibarat ruangan blognya penuh sarang laba-laba dan kelabang. ya semoga domain id ini setidaknya menambah gairah saya untuk menuangkan buah pikir, pengalaman cerita atau apa saja deh. 

Terimakasih buat kalian yang udah main kesini support produk Indonesia buat kalian yang suka ngeblog pake id #Banggapakai.id

Yogyakarta,
6 April 2016