Sabtu, 25 Juni 2016

Kala Media Sosial Jadi Bencana Bagi Keragaman di Indonesia



Jum’at pagi bertepatan dengan shalat Ied salah satu masjid di Tolikara dibakar oleh oknum yang mempermasalahkan pembangunan masjid di tanah Papua, dan merasa resah dengan keberadaan Muslim di sana, liputan dan pemberitaan tentang pembakaran masjid tersebut sontak menjadi trending topik dan menjadi headline news di beberapa media online, beberapa stasiun televisi swasta dalam skala nasional juga menayangkan berita tersebut secara terus menerus, sehingga pemberitaan mengenai pembakaran masjid di Tolikara begitu cepat menyebar dan tidak terbendung, isu-isu yang tidak bertanggung jawab juga menyeruak, terutama di media sosial berbagai macam opini dan dugaan-dugaan mengenai pembakaran ikut mewarnai, tidak jarang sampai menyinggung ke ranah sentimen keagamaan.

Masifnya pemberitaan dan respon masyarakat yang bergejolak memberikan dampak di berbagai daerah lain di Indonesia. Selang tiga bulan setelah pembakaran di Tolikara, pembakaran rumah ibadah kembali terjadi di Aceh Singkil, kali ini pembakaran dilakukan oleh oknum terhadap Gereja, hal serupa pun hampir sama di mana pemberitaan media yang meliput kejadian tersebut kian derasnya, respon masyarakat di media sosial tidak kalah “membisingkan” isu isu miring berseliweran, tuduhan tuduhan yang tidak berdasar juga terus dialamatkan kepada salah satu komunitas agama yang tentu saja dapat merusak hubungan kerukunan beragama yang sudah terjalin sejak lama di bumi Indonesia.

Perusahaan media pada mulanya berperan sebagai penyampai berita atas suatu kejadian tertentu, di mana berita menjadi suatu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, dan pelaku perusahaan media bukanlah hadir dalam ruang hampa yang terlepas dari desas-desus ekonomi, politik dan budaya. Sebagaimana perusahaan pada umumnya, tentulah perusahaan media memiliki kepentingan dari perusahaan yang dikelolanya, paling tidak bagaimana perusahaan tetap terus berdiri dan pemilik media mendapat keuntungan serta mampu menggaji setiap karyawan dan membayar tagihan operasional setiap bulannya.

Dalam memperoleh keuntungan maka setiap perusahaan media harus merambah ke seluruh elemen masyarakat agar dapat ditonton, dibaca dan disebar sebanyak-banyaknya. Semakin banyak yang mengakses maka akan semakin eksis, semakin banyak yang datang untuk beriklan dan pastinya semakin banyak pulalah keuntungan yang didapat dari perusahaan media tersebut. Oleh karena itu setiap perusahaan media dituntut untuk bersaing perihal mengemas bagaimana berita disuguhkan ke masyarakat. Setiap perusahaan media tentu memiliki peraturan dan tata cara yang harus dipatuhi, tapi di era keterbukaan digital seperti saat ini, maka setiap orang siapa saja dan dimana sajapun berada bisa menjelma menjadi perusahaan media dengan segala kepentingan yang dibawanya.

Media sosial kini merupakan suatu yang paling dekat dengan masyarakat, setiap orang dapat berbagi kabar dan dapat bertemu walau dengan jarak yang jauh sekalipun, dengan media sosial juga seseorang bisa kembali bertemu dengan sanak keluarganya yang telah lama berpisah. Dalam perkembangannya, media sosial menjadi sarana untuk mengakses berita sekaligus respon terhadap suatu kejadian tertentu, seiring terus meningkatnya pengguna media sosial di Indonesia. Dari data yang dirilis laman kominfo.go.id menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta pengguna dan 80% diantaranya adalah pengguna media sosial kalangan remaja.

Dua peristiwa di atas dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa perusahaan media berpotensi untuk mengembangkan konflik juga mentransfer konflik ke wilayah lain yang sebelumnya tidak berkonflik menjadi berkonflik melalui sebuah pemberitaan. Pemberitaan mengenai pembakaran dua rumah ibadah tentulah akan menjadi pemberitaan yang menghebohkan di masyarakat, karena perihal agama adalah suatu yang fundamental dari setiap umat beragama dengan intensitas tinggi dan rentan memancing emosi dari setiap pemeluknya, terlebih Masjid dan Gereja yang merupakan tempat ibadah sekaligus simbol kesucian masing-masing agama. Dan bagi perusahaan media pemberitaan tersebut merupakan pemberitaan yang dapat memberikan keuntungan karena dapat meningkatkan eksistensi, traffic akses pengunjung, dan rating perusahaan. Sedangkan media sosial menjadi sasaran utama berbagai pemberitaan dari berbagai macam perusahaan media.

Maka ketika pemberitaan dengan segala nilai dan muatannya diberitakan oleh banyak perusahaan media, dan juga masyarakat yang berbeda latar belakang, pemahaman dan pengalaman menerima pemberitaan melalui media sosial maka akan akan muncul respon yang semakin beragam pula dan tidak jarang sampai menimbulkan perselisihan. Media sosial menjadi pihak yang memfasilitasi dan menyalurkan pemberitaan dengan begitu mudahnya menangkap kemudian menyebarkannya, bermula pada lingkaran dari setiap individu kemudian meluas melalui jejaring ke lingkaran-lingkaran yang lain sehingga bayangan-bayangan berkonflik dirasa tanpa jarak dan begitu dekat dari sumber konflik walau berbeda pulau sekalipun.

Kesimpulan

Pemberitaan konflik yang terus menerus dan media sosial yang tidak terbendung akan menyebabkan konflik semakin mengakar dan semakin sulit ditemukan jalan keluarnya. Dari pemberitaan ke media sosial, kemudian berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat di daerah lain yang merupakan bagian dari komunitas agama yang terlibat konflik di suatu daerah tertentu. Dengan demikian akan merasa was-was dengan komunitas agama yang berbeda di daerahnya, bahkan bisa merespon dengan membentuk gerakan perlawanan atau pembalasan yang akan menyebabkan konflik menjadi semakin luas.

Rekomendasi :

Keragaman adalah jantung dari persatuan negara Republik Indonesia oleh karena itu : 
1. Perlunya perhatian dan peran serius pemerintah dalam menangani pemberitaan yang bersinggungan dengan keragaman.
2. Perlunya kerjasama pemerintah dengan perusahaan media dengan tujuan kerukunan umat beragama dan menjunjung tinggi keragaman.
3. Masyarakat harus bijak dalam menyikapi berbagai pemberitaan dan tidak mudah terpancing secara berlebihan dalam merespon pemberitaan yang berpotensi merusak keragaman di Indonesia.
4. Bermedia sosial dengan sehat.
silahkan ditambahkan :)
5.
6.
7.
8.


“artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa”  #celebratediversity #10tahunicrs


Artikel Terkait

1 komentar so far

Pertanyaannya: Betulkah semakin taat beragama, seseorang akan semakin eksklusivis? Apakah meyakini kebenaran eksklusif pada agamanya sendiri merupakan persyaratan bagi kedalaman spiritualitas?Dalam tulisan ini saya akan menjawab, https://www.itsme.id/keragaman-agama-itu-sunnatullah/


EmoticonEmoticon