Minggu, 30 April 2017

Bapak Tua Pengusik


Tiada tempat seindah kau temukan kecuali kampung halaman mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk mewakili perasaan tatkala beberapa waku lamanya berada di kampung orang. Sebagai perantau biasanya pulang memang menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu begitupun saya, tepat hari ini tercatat sudah 2 minggu berada di Medan setelah sekitar hampir 6 tahun lamanya berada di sebrang pulau sana.

Dalam rentang waktu dua minggu tersebut banyak sekali hal-hal yang kembali dalam memori tentu sekolah, jalanan dan tempat-tempat yang dulunya pernah disinggahi waktu kecil. melihat perubahan orang-orang yang dahulu pernah dikenal, teman, tetangga, guru hingga pedagang makanan kecil yang biasanya nangkring di depan pagar sekolah SD. Saya masih melihatnya berjualan yang sama seperti saat saya masih SD cuman bedanya dahulu naik sepeda sekarang kendaraan pengangkut gerobaknya mulai berganti dengan "kereta".

Beberapa waktu yang lalu saya melintas di Simpang Kongsi, kemudian melihat sesosok wajah yang cukup familiar dalam ingatan saya, ia berjalan dengan kaki yang sedikit terlipat jalannya miring sesekali pincang ketika ia hendak menyebrang, saya mencoba kembali mengingat siapa ia mengapa sejenak saya berfikir dalam untuk mengingatnya, sambil berjalan saya pun belum menemukan siapakah orang tua itu, kemudian berlalu mungkin karena sudah terlalu lama tidak melihatnya sehingga saya lupa dan hanya mengingat wajahnya saja.

Di rumah saya masih memikirkan kembali sesosok yang mengganggu fikiran saya tadi kok rasanya belum puas sebelum benar-benar bisa menemukan jawaban siapa gerangan orang tua tersebut, hingga sore barulah saya mulai sedikit mendapatkan petunjuk ternyta bapak tua itu adalah seorang penjual minuman kedai kopi tepat di simpang Kongsi tersebut, tapi kini tidak lagi saya temukan kedai kopinya, tempatnya sudah berganti dengan ruko yang digemerlapi permainan anak-anak layaknya pasar malam mini.

Ingatan saya semakin kuat dengan bapak tua tadi, ya saya teringat ketika masih kecil sehabis pulang sekolah SD saya masih harus melanjutkan pembelajaran yakni mengaji ala madrasah ibtidaiyah, metodenya pembelajarannya hampir sama sebagaimana sekolah pada umumnya, jadi pagi sekolah siang mengaji, begitulah saya habiskan waktu semasa kecil. kebetulan jarak tempuh rumah dan SD amatlah dekat bahkan saya tinggal di komplek Sekolah, tapi berbeda dengan jarak tempuh rumah ke tempat mengaji jaraknya kurang lebih 2-3 KM.

Untuk sampai ke tempat ngaji biasanya saya berjalan, terkadang juga naik sepeda dengan teman yang melintas kebetulan satu kelas dengan saya. Sehabis ngaji itulah saya dan teman-teman biasanya singgah ke kedai bapak tua itu untuk meminta air putih sekedar melepas dahaga, tak jarang ia juga memberikan teh hangat kepada anak-anak yang baru keluar dari mengaji secara cuma-cuma dan itu ia lakukan hampir setiap hari.

Walaupun kedai kopinya tak ada lagi dan kondisi bapak tua itu yang kini mulai "memincang", bagi saya beruntunglah ia saya hanyalah satu dari banyaknya anak-anak yang ia beri minum walaupun seteguk air putih tapi cukup untuk setidaknya mengusik fikiran saya, dan menyindir ego untuk memahami kembali apa makna dari memberi, makna dari mengasihi, dan makna dari hidup.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon