Kamis, 13 Juli 2017

Perjalanan ke Tanah Karo Sumatera Utara


Liburan kali ini saya banyak mengunjungi beberapa tempat di tanah Karo, selain untuk mengisi liburan saya juga ingin mencari tahu mengenai sejarah dan kebudayaan masyarakat karo yang telah lama mendiami dataran tinggi di Sumatera utara tersebut.

Pada umumnya orang-orang yang tinggal di Sumatera utara adalah Batak dan Melayu, suku karo sering dikategorikan sebagai bagian dari Batak walaupun saya juga menemukan beberapa literatur yang menyebutkan bahwa orang Karo bukanlah orang Batak, term Batak ini dianggap merupakan term yang digunakan Kolonial Belanda untuk mengidentifikasi masyarakat yang mendiami Sumatera Utara pada umumnya.

Masyarakat Karo juga merupakan salah satu suku yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter dan peradaban di Sumatera Utara, sekaligus ikut andil dalam mensejahterakan masyarakat Sumatera Utara terutama di bidang pertanian, dataran yang subur menjadikan warga setempat hidup dengan bercocok tanam, dari mulai sayuran hingga buah-buahan, saya ikut merasakan bagaimana memetik buah strawberry dari tanamannya yang langsung bisa dikonsumsi.

Selain itu tanah karo juga menjadi salah satu tempat wisata bagi masyarakat sumatera utara, baik wisata alam tradisional maupun wisata “modern” terutama daerah Berastagi. Bagi para pecinta alam biasanya akan memilih Gunung Sinabung atau Sibayak untuk didaki, saya sendiri sudah pernah mendaki gunung sinabung sebelum erupsi berkepanjagan sebagaimana saat ini.

Perjalanan saya di Tanah karo dimulai dari Museum yang terletak di simpang tugu kota Berastagi, saya menelusuri situs-situs peninggalan dan adat istiadat dari masyarakat Karo, baik berupa peninggalan secara fisik, seperti pakaian, patung, senjata dll juga melalui gambar tentang prosesi upacara dan rangkaian kegiatan dari masyarakat Karo sayapun mencoba membaca situasi bagaimana pola kehidupan masyarakat Karo pada zaman dahulu, setidaknya saya mengetahui bahwa masyarakat Karo adalah masyrakat yang berpegang teguh terhadap budaya adat-istiadat dan menjunjung tinggi leluhur.

Bagian Beranda masuk Museum Pusaka Karo 

Bagian dalam Museum Pusaka Karo

Tampak Luar Bangunan Museum Pusaka Karo
Setelah selesai mengunjungi Museum saya melanjutan perjalanan ke Gundaling, salah satu obyek wisata dan berbelanja berbagai cendramata di Berastagi, bisa dikatakan Gundaling ini adalah puncak dari Berastagi karena dari sini kita bisa melihat Tanah Karo dari ketinggian, yang juga merupakan spot untuk melihat langsung Gunung Sinabung dan Sibayak. Gundaling menjadi tempat penggerak ekonomi masyarakat Karo di Berastagi. Sebagaimana tempat wisata pada umumnya di sini kita akan menjumpai masyarakat setempat yang bekerja sebagai penjaga kafe dan penunggang Sado atau kereta Kuda.

Puncak Gundaling dan Panorama alam Gunung Sinabung

Puncak Gundaling Icon Pawang Ternalem
Untuk melengkapi rangkaian perjalanan di tanah Karo sayapun melanjutkan perjalanan ke daerah Kabanjahe, yang memang tidak terlalu jauh jaraknya dari Berastagi, sekaligus bersilaturrahmi dengan saudara. Secara keseluruhan masyarakat Karo yang terdapat di Berastagi dan Kabanjahe tidak memiliki perbedaan yang signifikan, akan tetapi aktivitas masyarakat Karo di kabanjahe memang lebih sibuk ini dikarenakan Kabanjahe merupakan ibukota dari Kabupaten Tanah Karo dimana segala urusan birokrasi pemerintahan dijalankan di sini.

Akhirnya, Perjalanan di Tanah Karo saya sudahi sampai di Kabanjahe, mungkin di lain kesempatan bisa kembali menabur jejak meneruskan perjalanan ke Danau Toba.

Artikel Terkait

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon